Home Roda Niaga Kenaikan Harga Batubara Belum Bikin Penjualan Truk ‘Menyala’

Kenaikan Harga Batubara Belum Bikin Penjualan Truk ‘Menyala’

364
0
truk batu bara - dok.bumn.go.id

Jakarta – Meski sejak Juni lalu harga batubara di pasar dunia terus merangkak naik, namun belum menjadikan kegiatan bisnis perusahaan batubara di Indonesia langsung menanjak. Walhasil, permintaan truk pun masih lemot.

“Memang, meski pun harga naik, namun tidak serta merta menyebabkan lompatan permintaan dari Indonesia. Kenaikan dipicu oleh isu akan terjadinya pembatasan produksi oleh negara-negara penghasil dan pengekspor minyak (OPEC) sehingga harga minyak akan naik. Kedua, tren kenaikan harga juga dipengaruhi oleh deal kontrak antara Australia dengan Jepang dalam hal pasokan,” tutur Dudi Adwiyana, analis pasar komoditas kepada Otoniaga, di Jakarta, Selasa (1/11).

Meski setelah finalisasi kontak itu harga sempat turun yakni pada Mei, namun pada bulan berikutnya hingga Oktober kemarin harga terus merangkak naik. Pada Juni harga tipis ke level US$ 51,81 per ton. Dan Juli US$ 53 per ton.

“Bahkan, kemudian merangkak lagi pada Agustus sehingga harga berada pada posisi US$ 58,37 per ton. Sementara di September Harga Batubara Acuan (HBA) naik 9 persen menjadi US$ 63,93 per ton. Dan Oktober, Kementerian Energi dan Sumber Day Mineral (ESDM) menetapkan HBA US$ 69,07 per ton,” paparnya.

Hanya, lanjut Dudi, di lapangan, kenaikan harga itu tak langsung menyulut kegiatan produksi yang besar-besaran. “Sehingga, jangan menambah investasi baru. Beroperasi dalam level kapasitas maksimal pun belum. Karena perusahaan juga menunggu kondisi global,” imbuh Dudi.

Pernyataan serupa diungkapkan Head of Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corporation (MFTBC) Public Relation Promotion Department PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Sudaryanto. Menurutnya, hingga saat ini produk batubara 80% diekspor ke pasar dunia.

“Itu secara data. Dan untuk ekspor ini dipengaruhi oleh ekonomi global termasuk naik turunnya harga minyak dunia dan nilai tukar dolar,” ucapnya melalui pesan singkat.

Selain pertambangan batubara, melorotnya permintaan truk juga dipengaruhi oleh kondisi komoditas kelapa sawit dan produk turunannya seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Kendati begitu, kata Totok, masa panen sawit yang saat ini harganya juga mulai naik (Tandan Buah Segar atau TBS mencapai Rp 1.000), mulai berpengaruh pada September lalu hingga Februari 2017 mendatang.

“Dan dampaknya, diharapkan akan lebih banyak mulai September lalu. Mudah-mudahan terus naik,” ucapnya.

Seperti diketahui, penjualan truk sepanjang Januari – September lalu turun 14,5 persen dibanding tahun 2015. Jika sebelumnya sebanyak 56.621 unit, tahun ini hanya 49.402 unit.

Data Gaikindo mencatat sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini, penjualan Mitsubishi Fuso merosot 18,5 persen. Hingga akhir September lalu, penjualan kumulatif merek ini sebanyak 23.141 unit.

Padahal, di kurun waktu yang sama tahun lalu penjualan masih sebanyak 28.418 unit. Sedangkan merek Hino, meski tak sebanyak Mitsubishi Fuso, juga mencatatkan melorotnya penjualan. Tercatat, penjualan merek ini menciut 0,4 persen, yakni dari 14.482 unit tahun lalu, menjadi 14.413 unit di tahun ini.

Adapun truk besutan Isuzu yang dijajakan PT Isuzu Astra Motor Indonesia, anjlok 16,3 persen sepanjang kurun waktu itu. Jika di tahun lalu masih laku 9.868 unit, tahun ini cuma 8.258 unit. (Ara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here