Home Roda Niaga Ojek Online, Terbukti Kurangi Pengangguran

Ojek Online, Terbukti Kurangi Pengangguran

252
0
Gojek, Ojek Online-aktual

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut sepanjang Agustus lalu tingkat pengangguran terbuka di Tanah Air berkurang 0,57 persen. Sektor perdagangan dan jasa ojek online tercatat menjadi penyerap tenaga kerja yang cukup tokcer.

“Pada bulan itu jumlah pengangguran terbuka sebanyak 7,03 juta orang atau 5,61 persen dari total jumlah penduduk,” tutur Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Selasa (7/11).

Jumlah itu, lanjutnya, berkurang 530.000 orang atau turun 0,53 persen dibanding periode sama tahun lalu. Pada saat itu, orang yang terjun ke sektor perdagangan – terutama kaum Hawa – bertambah 1,52 juta orang. Sehingga jumlahnya menjadi 19,46 juta orang.

Pada saat yang sama, orang yang masuk ke bisnis jasa transportasi termasuk ojek online 500.000 orang. Walhasil, orang yang mencari nafkah di sektor itu menjadi 5,61 juta orang.

Direktur Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Sukardi, mengatakan sektor perdagangan menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak. Begitu pun dengan sektor jasa termasuk ojek online.

“Namun, kalau di sektor jasa ojek online, itu pertambangannya kelihatan. Tapi kalau di perdagangan tidak,” ucapnya.

Sementara, pengamat ekonomi kreatif Sri Andini Indrayanti menyebut, maraknya ojek online merupakan pertemuan yang klop antara kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang aman dan tren di e-commerce. “Meski soal keamanan dan kenyamanan itu bisa debatable, tapi setidaknya ada unsur kenyamanan dalam reservasi, delivery. Ada kepastian karena sistem yang ter-record dengan pasti, baik tujuan, pemesan, hingga pengantarannya. terlebih saat ini angkutan massal yang nyaman juga relatif belum banyak, kalau tidak bisa dibilang belum ada,” paparnya saat dihubungi.

Jasa transportasi online termasuk ojek online merupakan bagian dari booming sektor e-commerce di Indonesia sejak dua tahun terakhir. Pertumbuhan pasar sektor ini terus terjaga sehingga masih berada di kisaran 40 persen dengan nilai tak kurang dari US$ 30 miliar atau sekitar Rp 930 triliun lebih.

Menurut Andini sektor transportasi – khususnya yang berbasis online – masih akan terus dibutuhkan. Meski soal volume dan pertumbuhannya juga tergantung dengan perkembangan eksternal yang ada, baik kebutuhan masyarakat maupun perkembangan muda transportasi lain.

“Oleh karena itu, kreatifitas dan inovasi dalam menyuguhkan diferensiasi layanan, harus menjadi perhatian penyedianya. Sebab, bukan hanya tren selera atau gaya hidup masyarakat yang berubah, tetapi juga teknologi pendukung, kebutuhan dan keinginan mereka. Dan ini tak cuma dipengaruhi oleh tren global dan teknologi saja, tetapi juga ekonomi atau daya beli. Jadi cermat dan terus update harus dilakukan penyedia transportasi daring (online) itu,” imbuhnya. (Ara/Ktb).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here